NADOMAN NURUL HIKMAH, DARAS 1 (bagian 2)

11. CAHAYA KILAT SAJORELAT (:2/19)

  • Pareng leumpang tengah peuting, poek mongkleng sepi jempling,
    ngadadak baranyay kilat, serab kilat sajorelat.
  • Jelebet sorana tarik, dunya eundeur rek tibalik,
    tinggorowok tingkoceak, asa kiamat ngadadak.
  • Gelap dor-dar tingjelegur, dunya asa arek lebur,
    nu munapek tingjarerit, sieun maot jadi mayit.
  • Careurik aluk-alukan, anak bojo dicalukan,
    tapi taya nu nembalan, hayang salamet sorangan.
  • Kitu misil nu munapek, leumpang ngatog di nu poek,
    uyup-ayap rungah-ringeuh, hatena tagiwur riweuh.
  • Nu munapek lolong hate, teu apal goreng jeung hade,
    cilaka estu cilaka, nu munapek ka naraka.
  • Alloh Nu Maha Ngamurba, ngamurba ka sadayana,
    sadaya mahluk Mantenna, Alloh Nu Maha Kawasa.
  • 12. ULAH WASWAS (:2/20)

  • Anu hatena ngolembar, waswas hamham tara sabar,
    caang pikir sagebrayan, gancang leumpang rurusuhan.
  • Reup deui poek meredong, utag-atog rarang-rorong,
    jen ngajentul mandeg mayong, paningalna jadi lolong.
  • Lolong teh lolong batinna, torek teh torek rasana,
    musna rasa manusana, nu kitu kapir ngaranna.
  • Nu matak ulah rek hamham, sabab matak ipis iman,
    ulah waswas ragu-ragu, mandeg mayong mundur maju.
  • Baca lebih lanjut

    21 Komentar

    Filed under Nurul Hikmah

    NADOMAN NURUL HIKMAH, DARAS I

    Ka Alloh abdi nyalindung, tina panggodana setan.
    Kalayan asma Nu Agung, Alloh Anu Welas Asih.

    -Alloh-

    1. ALLOH ANU MAHA UNINGA (:2/1,2)

  • Alloh Nu Maha Uninga, kana sadaya dawuh-Na,
    mungguhing urang manusa, wajib kedah percantenna.
  • Kana Qur’an ulah hamham, ulah waswas ragu-ragu,
    upami urang mihamham, tangtos urang buntu laku.
  • Sadaya umat Pangeran, kedah kenging tuduh jalan,
    nu mawi lumungsur Qur’an, pikeun tuduh jalan iman.
  • Tawisna nu takwa to’at, yakin ayana aherat,
    solatna teh tara pegat, ku Alloh tangtos dirahmat.
  • 2. SILIH BAGI REJEKI (:2/2,3,4)

  • Mun urang nampi rejeki, rejeki pabagi-bagi,
    sasama ge kabagean, rejeki silih agehan.
  • Jelema nu iman mu’min, panceg percaya tur yakin,
    kitabulloh nu baheula, eta ge dawuh Mantenna.
  • Jelema nu iman mu’min, yakinna aenal yakin,
    yen engke teh hirup deui, bakal deuheus ka Ilahi.
  • Baca lebih lanjut

    17 Komentar

    Filed under Nurul Hikmah

    Bersabarlah, jangan terburu-buru, ridhalah senantiasa dengan takdir-Nya

    Fathuul Ghaib : Risalah Duapuluh Delapan

    Engkau menginginkan agar kebahagiaan dan kedamaian terlimpahkan kepadamu, padahal kau masih berupaya membinasakan hewanimu, harapan akan balasan di dunia ini dan di akhirat, dan hal ini masih bersemayam dalam dirimu? Wahai yang terburu-buru! Berhenti dan berjalanlah perlahan-lahan; wahai yang berharap! Pintu tertutup selama keadaan ini masih berlangsung. Sesungguhnya beberapa sisa dari hal-hal ini masih ada padamu, dan beberapa butir kecilnya masih bersemayam dalam dirimu. Itulah kontrak kebebasan seorang hamba sahaya; selagi masih ada se-penny pun padanya, kau tertutup darinya. Selama kau masih menghisap biji kurma dari dunia ini, dari hawa nafsu, maksud dan kerinduanmu, dari memperhatikan sesuatu dari dunia ini, dari mengupayakan sesuatu pun darinya, atau mencintai sesuatu keuntungan duniawi atau akhirat – selama hal-hal ini masih bersemayam dalam dirimu, kau masih berada di pintu peluruhan diri. Berhentilah di sini, sampai peluruhan dirimu sempurna, lalu kau dikeluarkan dari tempat peleburan, dan kau terbusanai, terhiasi dan menjadi harum, lalu kau dibawa kepada Raja nan agung dan berkata:

    “Sesungguhnya kamu pada sisi Kami menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya.” (QS 12:54) Baca lebih lanjut

    17 Komentar

    Filed under Fathuul Ghaib

    Kebaikan Dan Keburukan


    Fathuul Ghaib : Risalah Duapuluh Tujuh

    Anggaplah kebaikan dan keburukan sebagai dua buah dari dua cabang sebuah pohon. Cabang yang satu menghasilkan buah yang manis, sedang cabang yang satunya lagi, buah yang pahit. Maka dari itu, tinggalkanlah kota-kota, negeri-negeri yang menghasilkan buah-buah pohon ini dan penduduknya.

    Dekatilah pohon itu sendiri dan jagalah. Ketahuilah kedua cabang ini, kedua buahnya, sekelilingnya, dan senantiasa dekatlah dengan cabang yang menghasilkan buah yang manis; maka ia akan menjadi makananmu, sumber dayamu, dan waspadalah agar kau tak mendekati cabang yang lain, makan buahnya, dan akhirnya rasa pahitnya membinasakanmu. Jika kau senantiasa berlaku begini, kau akan selamat dari segala kesulitan, sebab kesulitan diakibatkan oleh buah pahit ini. Bila kau jatuh dari pohon ini, berkelana di berbagai negeri, dan buah-buah ini dihadapkan kepadamu, lalu dibaurkan sedemikian rupa, sehingga tak jelas antara yang manis dan yang pahit, dan kau mulai memakannya, bila tanganmu mengambil buah yang pahit, sehingga lidahmu merasakan pahitnya, kemudian tenggorokanmu, otakmu, lubang hidungmu, sampai anasir tubuhmu, maka kau terbinasakan. Pembuanganmu akan sisanya dari mulutmu dan pencucianmu akan akibatnya tak dapat menghapus yang telah tertebar di sekujur tubuhmu, dan sia-sia. Baca lebih lanjut

    4 Komentar

    Filed under Fathuul Ghaib

    Tiada tempat di dalam hatimu, kecuali bagi Tuhanmu


    Fathuul Ghaib : Risalah Duapuluh Enam

    Tabir penutup dirimu takkan tersibak, selama kau belum lepas dari ciptaan dan tak memalingkan hatimu darinya dalam segala keadaan hidup, selama hawa nafsumu belum pupus, begitu pula maksud dan kerinduanmu, selama kau belum lepas dari kemaujudan dunia ini dan akhirat, dan yang maujud dalam dirimu hanyalah kehendak Tuhanmu, dan kau terisi dengan nur Tuhanmu, dan tiada tempat di dalam hatimu, kecuali bagi Tuhanmu, sehingga kau menjadi penjaga pintu kalbumu, dan kau dikaruniai pedang tauhid, keagungan dan kekuatan.

    Maka, segala yang kau lihat, yang mendekati pintu kalbumu dari benakmu, akan kau pisahkan kepalanya dari bahunya, sehingga tiada tersisa bagi dirimu, dambaanmu dan kerinduanmu akan dunia ini dan akhirat sesuatu yang berkepala, dan tiada dunia yang diperhatikan, tiada pendapat yang diikuti, kecuali kepatuhan kepada Allah dan penerimaan penuh ikhlas akan takdir-Nya, bukannya peluruh penuh dalam takdir dan karunia-Nya. Baca lebih lanjut

    13 Komentar

    Filed under Fathuul Ghaib

    Lidah Kebenaran

    (Ibrahim berdo`a): “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah bagiku lidah kebenaran , menjadi sebutan dan pujian dari umat yang akan datang” (Qs. as-Syu’ara : 83-84)

    “Simpanlah lisanmu, kecuali untuk berkata yang baik, sebab dengan demikian engkau dapat mengalahkan godaan syetan” (Hadist diriwayatkan oleh Thabrani dan Ibnu Hibban)

    Dakwah artinya seruan, ajakan atau panggilan. Mendakwahkan suatu keyakinan artinya mengkomunikasikan sesuatu keyakinan kepada orang lain. Dakwah Islamiyah artinya menyampaikan pesan/seruan Islam, mengajak dan memanggil ummat manusia, agar menerima dan meyakini Allah saja yang Wajib di sembah dan agar manusia menerima pandangan hidup Islam secara utuh dan menyeluruh (Kaffah). Baca lebih lanjut

    13 Komentar

    Filed under Dakwah

    Fathuul Ghaib : Risalah Duapuluh Lima

    Jangan berkata, wahai orang yang malang! Yang darinya dunia dan orang-orangnya telah memalingkan muka mereka, yang hina, yang lapar dan yang dahaga, yang telanjang, yang hatinya terpanggang, yang merambah ke setiap sudut dunia, di setiap masjid dan tempat-tempat sunyi, yang terjauhkan dari setiap pintu, yang terhancurkan, yang jemu dan yang kecewa dengan segala keinginan dan kerinduan hati – jangan berkata bahwa Allah telah membuatmu miskin, menjauhkan dunia darimu, telah menjatuhkanmu, telah menjadi musuhmu, telah membuatmu kacau, tak mengukuhkan jiwamu, telah menghinakanmu, dan tak mencukupimu di dunia ini, telah mengelapimu, tak memuliakan namamu ditengah-tengah manusia, sedangkan kepada selianmu Ia anugerahkan banyak rahmat-Nya siang dan malam, memuliakan mereka atasmu dan keluargamu, padahal kamu sama-sama muslim dan mukmin dan nenek moyangmu sama-sama Hawa dan Adam, sang manusia terbaik.

    Ya, Allah telah mempelakukanmu begini, sebab fitrahmu suci dan kesejukan kasih-sayang Allah terus-menerus melimpahimu dalam bentuk kesabaran, kepasrah-ikhlasan dan pengetahuan. Dan cahaya iman serta tuhid menimpamu. Maka pohon imanmu, akarnya dan benihnya menjadi kuat, penuh dedaunan, buah, cabang dan rantingnya merambah ke mana-mana sehingga menimbulkan keteduhan. Setiap hari kian besar sehingga tak perlu lagi pertumbuhannya dibantu. Allah tentukan bagimu akan kau peroleh tepat pada waktunya, entah kau suka atau tak suka. Maka dari itu, janganlah serakah terhadap yang menjadi milikmu dan jangan cemas akannya. Jangan merasa menyesal atas yang dimaksudkan bagi selainmu.

    Baca lebih lanjut

    Tinggalkan komentar

    Filed under Fathuul Ghaib